Hal ini sudah berlangsung cukup lama, tapi baru Minggu malam tadi saya memikirkannya, Sindrom Minggu Malam. Apaan tuh? Ceritanya begini…
Hari Senin adalah hari paling menyenangkan. Saya selalu bangun pagi, pergi ke kantor untuk bekerja, berpikir, berinteraksi, berkarya dan melakukan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan produktifitas. Hari Senin sangat menyenangkan karena pikiran saya selalu segar, dan hati saya bugar. Lebih segar daripada hari Jumat. Mengapa? Karena saya baru ber-weekend ria alias beristirahat dari pekerjaan rutin saya selama setidaknya 2 hari, yaitu di hari Sabtu dan Minggu.
Sindrom Minggu Malam itu sendiri adalah suatu aktifitas yang terjadi setiap hari Minggu malam, dimana saya berpikir banyak tentang apa yang sudah saya lakukan minggu sebelumnya dan apa yang ingin dan seharusnya saya lakukan minggu yang akan datang.
Biasanya, hari minggu malam saya tutup dengan nonton Liga Inggris, terutama Manchester United dan memeriksa ceklist yang harus saya lakukan esok pagi di kantor (lihat posting-an sebelumnya Thank God It’s Monday). Biasanya pula, di momen tersebut saya berpikir ‘lebih’ daripada biasanya tentang pekerjaan saya.
Saat itu pulalah, saya bisa berpikir cenderung lebih tenang, karena saya tidak terburu-buru dan dikejar rutinitas. Serta, saya bisa memiliki ruang dan waktu untuk berandai-andai, memikirkan masa depan perusahaan tempat saya bekerja. Pada momentum minggu malam ini pula saya banyak memikirkan dan menemukan cara, metoda, pendekatan dan pemecahan masalah baru yang saya perkirakan akan datang. Istilahnya, banyak ide muncul lah. Sindrom Minggu Malam ini biasanya berlangsung sekitar 3-4 jam.
Picture credit: www.rci.rutgers.edu
Tags: Thoughts
