Usaha Sendiri, Kreatifitas dan Produktifitas Meningkat

Saya baru bertemu teman sesama pekerja kreatif. Dia adalah seorang mahluk kreatif yang terjebak di dunia korporat. Diakhir pembicaraan ringan kami hari ini, saya bilang blak-blakan.

Jika kamu ingin menjadi mahluk kreatif, berhenti bekerja dan dirikan usaha sendiri.

Tak terasa sudah hampir 3 bulan saya jadi pengusaha, home-based worker. Selama itu pula bisa dihitung saat saya jalan-jalan keluar rumah.

Penyebabnya adalah:

  1. Saya bekerja di media internet. Kebanyakan klien saya dari luar kota dan saya tidak perlu ketemu secara langsung, cukup lewat Internet Messenger atau telepon.
  2. Sifat menyendiri dan menghindar dari dunia sosial offline tumbuh kembang dan digantikan dengan pergaulan sosial di dunia online.

Di dunia ini saya bisa memilih komunitas baru. Saya memilih masuk ke dunia kreatif.

Mungkin sulit dimengerti jika tidak pernah mengalami, tetapi saya kilas balik melihat hidup saya selama ini dengan cara membandingkan dengan hidup saya sebelumnya sebagai pekerja korporat.

  1. Saya berhenti mengeluh karena produktifitas dan kreatifitas terhalang oleh politik kantor.
  2. Saya mendapat penghasilan lebih tinggi daripada gaji sebagai manajer.
  3. Saya baru bisa menikmati setiap waktu hidup di Kuta – Bali.
  4. Saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarga dan melihat anak bayi kami tumbuh.
  5. Saya memiliki lebih banyak teman yang berasal dari tempat yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.

Keadaan diatas membuat fokus hidup saya berubah karena saya lebih fokus pada kreatifitas daripada hal lainnya.

Dalam keadaan seperti itu, saya bisa lebih produktif.

Jika anda berani terima tantangan jadi mahluk kreatif, berhenti kerja di korporasi dan dirikan usaha sendiri.

2 comments

  1. “Jika anda berani terima tantangan jadi mahluk kreatif, berhenti kerja di korporasi dan dirikan usaha sendiri”

    Hello there again, kebanyakan masalah para calon enterpreneur bukan pada masalah kreatifitas, tapi “gengsi”. Para ca-pren tersebut kebanyakan memilih lahan industri tinggi modal seperti teknologi infomasi, yang mengakibatkan mereka terjebak pada kreatifitas mereka sendiri, modal mereka tidak cukup untuk mewujudkan kreatifitas mereka. Jika menyimak sektor sektor industri yang lebih merakyat (jadinya home-industri), seperti beberapa pengusaha batik di daerah, pemanfaatan barang recycled untuk cover cd, photo frame atau dll, di sinilah seharusnya “kreatifitas” mereka bermain. Bagaimana memanfaatkan modal “dana” yg sedikit, dipadukan dengan “kreatifitas” mereka yg melimpah (baca: “kaya”).

    So untuk para ca-pren, jangan gengsi, sampah aja bisa bikin Anda kaya lho, itu kalau Anda “kreatif”…… (Blagu mode off, saya sendiri cuma bisa ngomong doang hahaha)

    Eko Andri

  2. go go go

Leave a comment